Geser Jeff Bezos & Kekayaan Mencapai Rp 2.601 Triliun Elon Musk jadi Orang Terkaya di Dunia

Pengusaha Tesla dan SpaceX, Elon Musk, telah menjadi orang terkaya di dunia. Elon Musk memiliki kekayaan bersih melampaui 185 miliar dolar, atau sekitar Rp 2.601 triliun. Kekayaannya melonjak drastis setelah harga saham Tesla naik pada Kamis (7/1/2021) lalu.

Musk mengambil posisi teratas yang diduduki oleh pendiri Amazon, Jeff Bezos. Sebelumnya, Bezos telah memegang posisi orang terkaya di dunia sejak 2017 silam. Dilansir BBC , nilai perusahaan Tesla milik Musk telah melonjak tahun ini.

Tesla mencapai nilai pasar sebesar 700 miliar dolar atau sekitar Rp 9.800 triliun untuk pertama kalinya, pada Rabu (6/1/2021). Hal itu membuat Tesla bernilai lebih dari gabungan Toyota, Volkswagen, Hyundai, GM, dan Ford. Musk mengatakan, sekitar setengah dari kekayaannya ditujukan untuk membantu masalah di Bumi.

Setengah lainnya untuk membangun pangkalan di Mars. Kekayaannya juga digunakan untuk memastikan kelangsungan kehidupan semua spesies, jika Bumi terkena meteor atau Perang Dunia Ketiga terjadi. Kehidupannya juga telah didukung oleh politik di Amerika Serikat, termasuk Demokrat.

Daniel Ives, seorang analis dari Wedbush Securities menulis, Senat Biru (Demokrat) memiliki potensi sebagai 'game changer' untuk Tesla dan sektor kendaraan listrik secara keseluruhan. Dengan agenda yang lebih ramah lingkungan, menurut Ives, nasib perusahaan Musk akan dapat diprediksi dalam beberapa tahun ke depan. "Kredit pajak kendaraan listrik yang diharapkan akan menguntungkan Tesla, yang terus memegang kendali di pasar saat ini," tambahnya.

Posisi terbarunya itu seolah telah 'diprediksi' oleh akun Twitter @teslaownersSV. Twit lama akun tersebut menuliskan "@elonmusk sekarang adalah orang terkaya di dunia dengan 190 miliar dolar." Elon Musk pun membalas cuitan itu.

Ia menulis, " Betapa anehnya." "Baik, kembali bekerja ." Sementara itu, meskipun posisi Jeff Bezos tergusur, kekayaan tetap meningkat selama setahun terakhir.

Pandemi virus corona membuat Amazon dibanjiri permintaan untuk toko online dan layanan komputasi awan. Namun, dia memberikan 4% saham dalam bisnisnya kepada mantan istrinya, MacKenzie Scott setelah mereka berpisah. Hal itulah yang mendorong Musk menduduki posisinya sekarang.

Selain itu, ancaman regulasi didapat oleh Bezos. Itu berarti, saham Amazon tidak meningkat seperti yang seharusnya terjadi. Pengusaha sekaligus motivator, T. Harv Eker pernah berkata, "Penghasilanmu hanya dapat tumbuh sejauh yang kamu lakukan."

Ini berarti, kekayaan bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga cara berpikir. Dalam kehidupan sehari hari, orang kaya melakukan kebiasaan yang berbeda dari orang biasa. Kamu bisa belajar dari kebiasaan mereka untuk meningkatkan kualitas kehidupan maupun karir.

Berikut kebiasaan orang kaya yang membedakannya dari rakyat biasa, dilansir Brightside.me : Penulis, pembicara publik, sekaligus filantropis, Tony Robbins, memiliki kekayaan bersih 500 juta dolar atau sektiar Rp 7,4 triliun. Kamu mungkin berpikir, dia menghabiskan uang untuk membeli makanan dan minuman mewah.

Namun kenyataannya, ia secara permanen mengikuti diet sehat yang membuatnya melewati 16 jam kerja. Business Insider melaporkan, berdasarkan pelatih pribadinya, Robbins makan telur dan roti kelapa untuk sarapan. Dia juga mengkonsumsi salad sayur porsi besar dengan alpukat untuk makan siang, serta kentang dengan protein organis dan sayuran untuk makan malam.

</strong> Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, pernah menjelaskan bahwa dirinya tidak menghabiskan uang hanya untuk membeli brand ternama. Cara tersebut membantunya untuk tidak teralihkan dari tujuan global.

Dia selalu mengenakan atasan abu abu sehari hari. Menurut geekwire.com , filosofi ini menjernihkan hidupnya, sehingga dia dapat meminimalkan keputusan apa pun yang harus diambil, kecuali yang berkaitan dengan perusahaannya. "Saya merasa seperti tidak melakukan pekerjaan jika saya menghabiskan energi untuk hal hal yang konyol atau sembrono tentang hidup saya," ujar Zuckerberg.

Dia menyebut, dengan cara itu, dirinya dapat mendedikasikan seluruh energinya hanya untuk membangun produk dan layanan terbaik. Tak hanya Zuckerberg, orang terkaya kedua di dunia, Bill Gates, juga lebih suka membeli barang barang murah. Misalnya, dilansir whatkindofwatch.com , ia memakai arloji seharga 24 US dolar atau sekitar Rp 356 ribu.

Gates pun dengan gamblang dan percaya diri mengungkapkan harga arloji yang dikenakan. Orang kaya menghabiskan waktu mereka secara produktif. Dalam bukunya, "Rich Habits: The Daily Success Habits of Wealthy Individuals", Tom Corley menguraikan beberapa perbedaan antara kebiasaan orang kaya dan orang miskin.

Dia menyatakan, 81 persen orang kaya secara konsisten menulis daftar hal yang harus dilakukan. Sementara itu, 19 persen orang miskin melakukannya. Corley percaya, ini adalah satu kebiasaan utama orang kaya.

Daftar tersebut harus mencakup hal hal yang memiliki peluang penyelesaian sebesar 80 persen dalam sehari,menurut CNBC . Kemudian, hasilnya akan diringkas di malam hari. Murray Newlands adalah seorang pengusaha, investor, konsultan bisnis, dan pembicara yang bekerja dengan banyak orang kaya.

Dia mengatakan, tidak bekerja di malam hari sama pentingnya dengan bekerja secara produktif sepanjang hari. Dilansir Inc.com , Newlands merekomendasikan untuk menggunakan waktu setelah jam 6 sore untuk diri sendiri. Selain itu, jangan memeriksa email, notifikasi terkait pekerjaan, atau menjawab panggilan telepon.

Tom Corley memiliki tips bagus. Dalam richhabits.info , dia percaya bahwa 79 persen pengusaha sukses menghabiskan 5 jam atau lebih setiap bulan untuk menjalin relasi. Artinya, para pengusaha sukses berkomunikasi dengan orang orang sukses lainnya.

Mereka berbagi pengalaman dan saling bertukar ide ide terbaik mereka. Relasi dengan orang lain di industri serupa akan memberi pengetahuan dari mereka yang telah melakakukan kesalahan dan belajar dari hal itu. Pria terkaya keenam di dunia, Warren Buffett, juga suka membaca.

Dia membaca sekitar 6 surat kabar sehari. "Pekerjaanku pada dasarnya hanya mengoeksi banyaknya fakta dan informasi, dan sesekali melihat apakah itu mengarah pada suatu tindakan," jelas Buffett, dikutip dari Theweek.com .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *